Senin, 01 April 2013

Lombok – Putri Mandalika – Cinta Perempuan Mulia Dalam Dilema Pahit



(Bagian 1)

Burung-burug itu tampak begitu bahagia. Selalu bergerak mengikuti titah angin yang meniup lembut dari celah bukit di depannya. Kaki-kaki mereka menggenggam kawat listrik untuk menahan deru angin yang menerpa sayap. Pegangan kaki kadang terlepas, hampir jatuh, lalu terbang menghindari kecelakaan. Tapi kemudian menekuk sayap sambil melayang, memberi jalan pada angin untuk lewat. Lalu membelok untuk kembali hinggap pada kawat itu, menemui kerabatnya yang masih bertahan menikmati permainan angin bukit hijau. Mereka duduk berjejer pada kawat listrik yang terbentang melintas sepanjang bibir pantai. Pasti mereka tidak sekadar menikmati keindahan alam yang terukir pada warna dan lekuk-lekuk bukit itu. Tidak juga sebatas mengagumi tindak-tanduk segelintir pengunjung pantai pada sore itu. Pasti ada sesuatu yang lain, yang lebih dalam dan lebih penting bagi mereka.

Sumber Foto:  Adhe, Dokumen Pribadi
Sambil menahan tekanan angin, sebagian besar burung-burung kecil itu memandang kearah ujung bukit. Takjub melihat awan tebal di atas bukit-bukit gundul berwarna coklat muda di tengah samudera biru. Tapi beberapa dari mereka kadang saling menoleh. Tidak mungkin kalau sekadar untuk saling bertegur-sapa, karena mereka sudah lebih dari satu jam bersama-sama di tempat itu. Kadang ada yang berpindah tempat melopmpati dua atau tiga temannya, lalu berjejer dengan temannya yang lain. Kemudian menoleh berdekatan, seperti berbisik tentang sesuatu yang sangat penting dalm hidup mereka. Tentu dalam kehidupan masyarakat burung yang lebih luas dari sebatas burung-burung kecil itu. Masyarakat luas dalam republik mereka. Dalam kedaulatan negara para burung.
Sumber Foto:  Adhe, Dokumen Pribadi
Di tempat ini. Di kawasan pantai selatan sekitar Kecamatan Pujud ini. Dulu pernah hidup seorang perempuan Agung,” kata Adhe. Pikiranku langsung meninggalkan keindahan yang sedang kunikmati. Keindahan prilaku burung-burung itu. Keindahan bukit hijau itu. Keindahan yang tercipta oleh lembutnya desir angin sore itu. Aku manatap Adhe. Wajah itu masih tersenyum. Pandangannya menyapu pantai. Sinar mata itu tertuju pada ujung bukit, seperti sedang nyontek pada prilaku burung. Wajahnya terlihat tajkub, mengagumi sejumlah bukit-bukit kecil yang menghiasi ujung bukit besar itu. Terlihat seperti onggokan-onggokan tanah terukir pada sebuah taman milik kerajaan terkenal. Mungkin bekas taman laut milik sang perempuan agung yang sedang diceritakan oleh Adhe.

Sumber Foto:  http://llatitudes.nu
Senyum di wajah Adhe tiba-tiba memudar, malah tampak seperti berpikir tentang sesuatu. Wajah itu makin serius seperti sedang berkonsentrasi untuk berpikir berat. Aku menoleh ke arah lain, karena tak kuat melihat wajah cantik berpikir berat. Pikiranku juga tiba-tiba beranjak meninggalkan wajah itu. Aku masih ingin menikmati kelakuan burung-burung kecil itu. Aku ingin terlibat pada apa yang sedang mereka perbincangkan. Ingin ikut berdiskusi, menjadi bagian dari jama’ah mereka. Bila memungkinkan. Paling sedikit dalam khayal yang mewujud menjadi rasa.

Mungkin burung-burung kecil itu sudah mulai khawatir tentang dominasi pihak manusia terhadap alam yang menjadi kepentingan mereka. Tentang pantai yang sudah mulai berubah. Pohon yang semakin berkurang. Bukit-bukit yang tergusur. Semuanya mulai berganti dengan bangunan. Bangunan itu tak berdaun, sehingga tak dapat memberi oksigen bagi para burung. Tanpa berbuah, sehingga tak menyumbang makanan bagi mereka. Bahkan penghuninya dan pengunjungnya melepaskan karbondioksida dari lubang hidung mereka. Bahan pembawa panas, pencipta gersang. Memang, sepintas kelihatan menjadi lebih indah. Karena tampak gedung megah di tepi hutan, di bibir pantai. Manusia bercengkrama menikmati alam dan menjalin cinta. Merajut imajinasi dan menangkap inspirasi. Akhirnya mengembangkan ekonomi, berpeluang besar menuju kesejahteraan dalam ranah hidup dan pergaulan manusia. Pergaula internasional. Tapi berbeda bagi mereka, bagi burung-burung itu. Semua ini mengurangi ruang sejuk kehidupan mereka. Mempersempit ruang mata pencaharian mereka. Menjadikan gersang ruang cinta mereka.

Mungkin. Tapi semuanya masih sebatas mungkin. Dalam pikiranku yang masih meraba. Karena aku tak berhak membangun analisa dan membuat kesimpulan. Apalagi membuat keputusan. Tapi semua itu, masih dapat mengusik dalam alam kehidupan burung yang tak mampu kita selami secara utuh. Kenyataannya, paling sedikit mereka menjadi terganggu. Padahal mereka lebih berhak di tempat ini. Karena nenek moyang mereka lebih dulu berada di sini. Jauh sebelum manusia manapun menginjakkan kaki di bibir pantai ini. Termasuk sebelum seorang perempuan Agung yang disebutkan oleh Adhe tadi. Aku yakin, sejarah belum menggoreskan tintanya untuk mecatat. Sejak kapan nenek moyang burung-burung itu tiba di pantai ini. Entah berdatangan dari benua sebelah mana pula. Dan jauh lebih dulu dari kita semua, manusia yang pernah datang ke pantai Kute ini.

Beberapa pasang dari mereka memang terlihat resah ketika berbisik dengan burung di sebelahnya. Mereka tampak galau atas kegalauan manusia. Tapi aku tidak yakin kalau burung-burung itu sedang berpikir dan membahas hal-hal yang terlalu jauh menyeberang ke luar dari persoalan mereka sendiri. Tentang hal-hal di luar kepentingan hidup mereka. Misalnya mereka tadi berbisik tentang inflasi yang terus menanjak di negeri ini. Tentang penembakan sejumlah tahanan di Sleman – Yogyakarta yang sedang menjadi topik panas televisi saat ini. Tentang Presiden yang merangkap jadi Ketua Partai hasil Kongres dua malam lalu. Tentang kasak-kusuk Tim Sukses Pilkada NTB dan Lombok Timur. Atau gejolak politik rencana pembentukan kabupaten baru Lombok Selatan.

Tapi tidak mungkin !!! Karena semua itu di luar kehidupan masyarakat burung. Meskipun pada akhirnya dampak percaturan hidup manusia itu akan berujung pada tindakan mengusik kehidupan para burung. Mereka pasti lebih praktis, karena lebih sabar dalam menghayati gerak-gerik alam semesta. Mereka lebih jujur, lebih obyektif, dan sekaligus lebih peka. Mereka lebih suka melihat hal-hal yang lebih dekat di depan mata mereka saat ini. Ketika mereka sedang bermusyawarah dengan duduk berjejer, berdiskusi di atas kawat listrik itu.

Adhe langsung mengalihkan pikiranku dari khayalan tentang burung-burung itu. Adhe lebih suka pada tujuannya, bercerita tentang putri itu. “Ia seorang perempuan yang nyaris tanpa cacad. Tanpa cela. Perempuan bijak yang telah mengorbankan diri demi kemanusiaan. Demi pelajaran moral bagi ummat manusia. Bagi laki-laki dan perempuan. Bahkan pelajaran nyata yang mungkin menyakitkan bagi para penguasa saat itu dan saat ini,” ucap Adhe melanjutkan ceritanya. Kali ini Adhe nampak sangat serius. Matanya berbinar menatap pantai. Meskipun keindahan birunya pantai itu tak mampu mengurangi keseriusan Adhe. Akupun berusaha lebih konsentrasi memperhatikan ceritanya. Berusaha melupakan burung-burung itu untuk sejenak. Mungkin pelajaran moral yang dimaksud Adhe dapat menjadi salah satu jalan yang bisa menyelamatkan burung-burung itu. Dan menyelamatkan makhluk lain yang juga berhak untuk hidup lebih layak. Lebih sejahtera, karena memperoleh hak atas harkat kemakhlukan mereka masing-masing. Cerita Adhe mulai mengalir. Ia nampak sedikit emosi. Karena fakta yang terjadi saat ini, para penguasa tidak menunjukkan tidakan-tindakan yang mencerminkan bahwa mereka pernah belajar dan mencontoh dari perempuan Agung yang pernah hidup di tanah Lombok ini.

Sumber Foto:  http://rinjanionline.com
Perempuan mulia itu bernama Putri Mandalika. Adalah putri dari Raja Tonjang Beru dari seorang permaisuri cantik benama Dewi Seranting. Raja dan permaisurinya adalah sepasang pemimpin yang sangat dikagumi dan dibanggakan oleh rakyatnya. Mereka dikenal sebagai sepasang pemimpin yang arif, bijaksana, dan penuh perhatian pada setiap rakyatnya. Masyarakat dalam wilayah kerajaan pantai selatan Lombok ini terkenal hidup makmur, sejahtera, aman dan damai. Keadaan ini membuat iri masyarakat dan para pemimpin 6 kerajaan lain yang terletak bertetangga dengan wilayah kerajaan ini.

Sumber Foto:  http://adnatravel.com
Meski masih sangat muda, Putri Mandalika memiliki andil besar bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Masa kecil dan masa muda Sang Putri begitu sempurna, begitu bahagia. Ia dididik dalam lingkungan keraton kerajaan yang terkenal memegang adat dan tata-krama yang tinggi. Ia tumbuh menjadi seorang perempuan yang lembut, santun, ramah dan penuh hormat pada masyarakat yang menjadi rakyatnya. Karena pendidikannya lebih dari cukup, ia juga tumbuh menjadi perempuan yang cerdas, kreatif, tapi sangat bijak.
Sumber Foto:  Adhe, Dokumen Pribadi
Walaupun hidup sebagai seorang putri raja yang serba berkecukupan, tapi ia tidak berpangku tangan. Ia sangat rajin belajar merajut benang dan sutera menjadi kain. Dalam bahasa sasak disebut Nyesek atau Nenun. Bahkan ia dikenal telah berhasil menciptakan berbagai motif tenun yang indah dan mengagumkan bagi rakyatnya. Motif-motif tenun ciptaannya ini kemudian diajarkan kepada rakyatnya. Ia juga menyulam dan menciptakan berbagai karya seni dari tanah liat. Belum puas dengan karya-karyanya itu, bahkan kemudia ia juga belajar memasak dari para ahli masak, pelayan dapur kerajaan dan para dayang penjaganya.


Prilaku indah dan kreatif Putri Mandalika ini menyebabkan para perempuan rakyatnya menjadi malu berpangku tangan. Mereka termotivasi dan berlomba-lomba ikut berkarya mengikuti jejak putri panutan mereka. Sehingga produk kain tenun, kerajinan tanah liat, dan karya-karya seni lainnya dari berbagai bahan alam banyak diekspor ke wilayah kerajaan tetangganya di sekitar Pulau Lombok pada saat itu. Sebagian besar kebutuhan masyarakat kerajaan tetangga adalah hasil karya masyarakat Kerajaan Tonjang Beru ini. Karya-karya seni masyarakat ini menjadi penunjang sangat kokoh bagi sektor pertanian yang menjadi sumber utama ekonomi masyarakat setempat. Hal ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi sangat pesat. Masyarakat hidup makmur. Tidak dapat ditandingi oleh masyarakat di 6 kerajaan lain yang menjadi tetangganya. Yaitu kerajaan Johor, Lipur, Beru, Pane, Kuripan, dan Daha.
Sumber Foto:  Adhe, Dokumen Pribadi
Di ujung kesempurnaan hidupnya, penderitaan sempat mampir menyentuh jiwanya. Penderitaan itulah menjadi jalan lapang bagi dirinya untuk mengakhiri segalanya dengan sangat bijak. Memersembahkan diri bagi siapapun. Sangat agung bagi rakyatnya. Tapi sungguh pahit,” kata Adhe melanjutkan ceritanya. Adhe membelakangiku. Aku mengira ia sedang menikmati kindahan pantai di depan tempat kami berdiri. Pantai yang dihiasi patung batu cadas warna coklat. Ciptaan alam dari sisa bukit yang telah habis dikikis oleh angin dan ombak. Tapi ternyata Adhe membelakangiku agar aku tidak melihatnya mengusap titik-titik air dari sudut-sudut matanya. Ia segera membuang tisu yang sudah basah, lalu menggantinya dengan lembar tisu yang lain. Mungkin Adhe terlalu menghayati ceritanya tentang putri mulia itu. Tentang pengorbanan seorang perempuan muda. Mengorbankan jiwa, raga dan cintanya. Demi kepentingan negaranya, dan masyarakatnya.
Sumber Foto:  Adhe, Dokumen Pribadi
Konon, sang Putri Mandalika sempat tidak cantik secara fisik. Saat itu tubuhnya kurus, wajahnya pucat. Pikirannya kacau, bahkan hancur berantakan. Apapun kegiatan yang dilakukan tidak dapat menghiburnya. Ia lebih sering menyendiri dan merenung. Lalu menangis. Setiap pagi para dayang dan pelayan lainnya menemukan bantal di tempat tidur sang Putri sudah basah dengan air mata yang menetes sepanjang malam. Ia ingin menemukan jalan yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah besar yang sedang dihadapinya. Ia merasa berada pada persimpangan jalan buntu. Diselimuti mendung berawan pekat pada malam yang gelap gulita. Karena semua pilihan tindakan untuk mengatasi masalahnya akan membawa pengorbanan besar. Pengorbanan sangat berat yang tidak manusiawi untuk dipikul oleh seorang perempuan belia.

Bukan sebatas pengorbanan bagi dirinya. Tapi pengorbanan bagi Ayah dan Bundanya. Pengorbanan bagi negaranya. Bahkan pertumpahan darah bagi rakyatnya. Tapi Tuhan sungguh Maha Besar sedang membimbingnya saat itu. Ketika menangis sampai hampir tak sadar, tiba-tiba di benaknya melintas sesuatu. Seperti sebuah firasat, seperti sebuah laduni yang membawanya pada kesadaran paling tinggi. Kesadaran untuk menyerahkan segalanya pada Tuhan. Untuk melakukan Semadi. Merenung untuk Tuhan penguasa semesta alam. Karena bagi Tuhan, tak ada jalan buntu. Segalanya terang tanpa mendung, tanpa gumpal awan pekat. Bahkan tak mengenal gulita dalam gelap malam.
Sumber Foto:  http://lomboktraveler.wordpress.com
Aku tenggelam dalam cerita Adhe yang mengalir seperti membuai perasaanku. Aku menjadi emosi tak tertahankan, dan tanpa sadar tiba-tiba melontarkan pertanyaan kepada Adhe: “Iya, iya, .....oke. Tapi apa yang menyebabkan semua itu? Apa yang bikin pikirannya kacau, sampai kurus kering, tidak makan, tidak tidur, dan hanya menangis? Apa itu? Masalah Apa? Kenapa harus ada perang berdarah?” Ucapku dengan suara keras seperti orang marah. Karena dari tadi aku menunggu penjelasan tentang penyebab masalahnya tapi tidak muncul-muncul sampai aku menjadi emosi. Mungkin tekanan darahku sudah mulai naik. Seperti ayahku ketika baru selesai makan gulai kambing, udang goreng dan cumi bakar sekaligus dalam satu hidangan. Enak, sedap, nikmat, tapi langsung marah.

Aku menyadari emosiku setelah Adhe tertawa terpingkal-pingkal melihat sikapku yang aneh. Marah seperti orang kehilangan dompet. Akhirnya aku jadi tertawa juga mengikuti Adhe setelah benar-benar menyadari bahwa Adhe sengaja tidak menjelaskan penyebab penderitan putri itu. Tujuannya supaya aku penasaran, dan emosi berat. Karena ia melihat dari tadi, aku lebih memperhatikan keindahan gumpalan awan sore di atas bukit-bukit kecil itu ketimbang ceritanya.

Sumber Foto:  http://encyclonesia.com
Masalah Putri Mandalika berawal dari penolakan terhadap lamaran dari 6 pangeran yang ingin menyuntingnya. Para pageran ini masing-masing adalah Putra Mahkota dari 6 kerajaan tetangganya. Penolakan dilakukan sebenarnya dengan tujuan yang sangat bijak. Agar para pangeran dan kerajaan yang bersangkutan tidak ada yang merasa direndahkan dibading yang lainnya. Bila ada salah satu diterima, maka 5 pangeran lainnya yang ditolak akan merasa direndahkan. Dikhawatirkan hal ini akan menimbulkan kecemburuan dan dendam di antara para pangeran maupun antar kerajaan tersebut. Ternyata, pikiran, sikap dan tindakan yang sangat bijak dari gadis cantik ini diterima dengan hati lapang hanya oleh 4 orang pangeran dari 4 kerajaan. Sementara dua pangeran lainnya tidak dapat menerima kenyataan ini. Keduanya secara terpisah bertindak persis sama: memaksa dan mengancam dengan keras.

Dua pangeran yang murka atas penolakan Putri Mandalika adalah Pangeran Datu Teruna dari Kerajaan Johor, dan Pangeran Maliawang dari Kerajaan Lipur. Kedua pangeran ini masing-masing mengirim dua orang Pembayun sebagai Duta Wacana (Juru Bicara) untuk melamar ulang. Kedua pihak yang melamar ulang ini melakukan hal yang persis sama, yaitu memaksa agar lamaran mereka dapat diterima. Kemudian langsung mengancam, bila lamaran ditolak, maka mereka akan menyerang sehingga terjadi perang yang membawa pertumpahan darah. Sang Pembayun ini kemudian menegaskan, bahwa perang akan berlanjut sampai menyebabkan Kerajaan Tonjang Beru hancur lebur, bahkan musnah dari bumi Lombok.
Sumber Foto:  http://fotopedia.com
Pada saat mendengar ancaman itu, sang putri yang dilamar sempat menebarkan senyum yang begitu menawan dan mampu bersikap tenang. Dalam pikirannya terlintas hal yang tidak mungkin terjadi untuk menerima dua laki-laki sekaligus sebagai suami dalam waktu yang sama. Akhirnya, sang putri dengan tegar, tegas dan sangat jelas, tapi sangat santun, memohon maaf untuk menolak dua lamaran tersebut. Maka para utusan dari dua kerajaan yang berbeda itu kembali dengan membawa berita mengecewakan bagi pangerannya masing-masing.

Manusia secara fisik tetaplah manusia. Putri Mandalika juga seorang manusia. Punya hati, punya nurani, punya rasa. Bahkan ia juga punya rasa takut. Setenang apapun seorang manusia, selalu ada keraguan yang mengusik bathinnya bila jiwa dan raganya dalam posisi terancam. Putri Mandalika mulai terganggu dengan ancaman yang tadi dilontarkan dengan tegas dan keras oleh utusan para pangeran itu. Setelah utusan dari kedua kerajaan itu pulang, istana Kerajaan Tonjang Beru menjadi sepi tanpa tamu. Suasana istana agak hening. Udara terasa lebih dingin setelah halaman istana dibasahi gerimis sore yang cukup panjang. Pada sore hari menjelang maghrib, sang putri berbaring di tempat tidurnya sambil menunggu tibanya waktu sholat. Pikirannya melayang, mengembara entah kemana, tanpa arah yang jelas. Ia bingung berhadapan dengan pilihan-pilihan yang semuanya beresiko. Bila salah satu diterima, maka..............................................................(Bersambung)

Daftar Sumber Foto


Daftar Referensi

Bahan diskusi dan bacaan blogger sebelum menulis artikel ini bersumber dari:

Anonim, .......... Cerita tentang Putri Nyale dari mulut ke mulut, dari para tetua di Desa Jerowaru dan Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur.

Mamiq Hartawang, 1992. Cerita dan diskusi secara langsung untuk belajar tentang legenda Putri Nyale. Mamiq Hartawang (Almarhum) adalah mantan Kepala Desa dan Tokoh Adat Desa Jerowaru. Nenek moyang beliau berasal dari Gunung Pujut Lombok Tengah, konon sekitar tempat beradanya Kerajaan Tonjang Beru.